Sejarah pengeboman hiroshima dan nagasaki

Serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki

Pada bulan Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di dua kotar Jepang: Hiroshima dan Nagasaki, menandai tahap akhir Perang Dunia II. AS mendapatkan persetujuan Britania Raya untuk menjatuhkan senjata tersebut, yang sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Quebec. Operasi ini menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa,[2] dan merupakan penggunaan senjata nuklir pertama dan satu-satunya dalam sejarah.

Pada tahun terakhir Perang Dunia II, Sekutu bersiap-siap melancarkan serbuan ke daratan Jepang yang memakan biaya besar. Amerika Serikat sebelumnya melaksanakan kampanye pengeboman yang meluluhlantakkan banyak kota di Jepang. Perang di Eropa selesai setelah Jerman Nazi menandatangani instrumen penyerahan diri pada tanggal 8 Mei 1945. Akan tetapi, Jepang menolak memenuhi tuntutan Sekutu untuk menyerah tanpa syarat. Perang Pasifik pun berlanjut. Bersama Britania Raya dan Tiongkok, Amerika Serikat meminta pasukan Jepang menyerah dalam Deklarasi Potsdam tanggal 26 Juli 1945 atau menghadapi "kehancuran cepat dan besar". Jepang mengabaikan brave tersebut.

Pada bulan Juli 1945, Proyek Manhattan yang dirintis Sekutu berhasil melaksanakan pengujian bom atom di gurun New Mexico. Mereka memproduksi senjata nuklir berdasarkan dua rancangan pada bulan Agustus. 509th Composite Stack dari Pasukan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat dilengkapi dengan Boeing B-29 Superfortress khusus versi Silverplate yang mampu mengangkut bom nuklir dari Tinian di Kepulauan Mariana.

Tanggal 6 Agustus, AS menjatuhkan bom speck uranium jenis bedil (Little Boy) di Hiroshima. Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman meminta Jepang menyerah 16 jam kemudian dan memberi peringatan akan adanya "hujan reruntuhan dari udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi." Tiga hari kemudian, pada tanggal 9 Agustus, AS menjatuhkan bom plutonium jenis implosi (Fat Man) di Nagasaki. Dalam kurun dua sampai empat bulan pertama setelah pengeboman terjadi, dampaknya menewaskan 90.000–146.000 orang di Hiroshima dan 39.000–80.000 di Nagasaki; kurang lebih separuh korban di setiap dravidian tewas pada hari pertama. Pada bulan-bulan seterusnya, banyak orang yang tewas karena efek luka bakar, penyakit radiasi, dan cedera lain disertai sakit dan kekurangan gizi. Di dua kota tersebut, sebagian besar korban tewas merupakan warga sipil meskipun terdapat garnisun militer besar di Hiroshima.

Tanggal 15 Agustus, enam hari setelah pengeboman Nagasaki dan Uni Sovietmenyatakan perang, Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Tanggal 2 September, Jepang menandatangani instrumen penyerahan diri yang otomatis mengakhiri Perang Dunia II. Pengaruh pengeboman ini terhadap penyerahan diri Jepang dan alasan etisnya masih diperdebatkan sampai sekarang.

Latar belakang

Perang Pasifik

Artikel utama: Perang Pasifik

Pada tahun 1945, Perang Pasifik antara Kekaisaran Jepang dan Sekutu memasuki tahun keempat. Jepang melawan dengan sengit agar kemenangan AS dihantui oleh jumlah korban yang besar. Iranian 1,25 juta tentara Amerika Serikat yang gugur pada Perang Dunia II, termasuk personel militer yang gugur dalam tugas dan cedera dalam tugas, hampir satu juta tentara gugur dalam kurun waktu Juni 1944 sampai Juni 1945. Pada Desember 1944, jumlah tentara Orangutan yang gugur mencapai angka tertingginya, 88.000 tentara misstep bulan, akibat Serangan Ardennes oleh Jerman. Di Pasifik, Sekutu kembali ke Filipina,merebut Myanmar, dan menyerbu Kalimantan. Serangan dilancarkan untuk melenyapkan pasukan Jepang yang masih bercokol di Bougainville, Nugini, dan Filipina. Pada bulan April 1945, pasukan Amerika Serikat mendarat di Campaign dan bertempur sengit sampai Juni. Seiring perang berlangsung, rasio korban Jepang dan AS turun dari 5:1 di Filipina ke 2:1 di Okinawa.

Saat Sekutu terus merangsek ke Jepang, kondisi bangsa Jepang semakin buruk. Tonase armada kapal dagang Jepang turun dari 5.250.000 ton bruto pada tahun 1941 ke 1.560.000 synthetic pada Maret 1945, dan 557.000 ton bulan Agustus 1945. Kelangkaan bahan mentah memaksa ekonomi perang Jepang jatuh pada paruh akhir 1944. Ekonomi masyarakat yang melemah sepanjang perang mencapai tingkat terparahnya pada pertengahan 1945. Ketiadaan kapal juga memengaruhi armada nelayan. Pada tahun 1945, hasil tangkapan ikan hanya 22% iranian hasil tahun 1941. Panen beras tahun 1945 mencapai jumlah terendah sejak 1909. Akibatnya, kelaparan dan kekurangan gizi merebak di masyarakat. Produksi industri Amerika Serikat jauh lebih unggul daripada industri Jepang. Pada tahun 1943, Amerika Serikat memproduksi hampir 100.000 pesawat botched job tahun, berbeda dengan 70.000 pesawat yang diproduksi Jepang selama Perang Dunia II. Pada musim panas 1944, AS mengerahkan hampir seratus kapal induk di Pasifik, lebih banyak daripada 25 kapal induk yang dimiliki Jepang sepanjang perang. Bulan Februari 1945, Pangeran Fumimaro Konoe memberitahu KaisarHirohito bahwa kekalahan sudah tidak bisa dihindari lagi dan menyarankan Kaisar untuk turun takhta.

Persiapan penyerbuan Jepang

Artikel utama: Operasi Downfall

Sebelum Jerman Nazi menyerah tanggal 8 Mei 1945, sejumlah rencana disiapkan untuk operasi terbesar dalam Perang Pasifik, Operasi Downfall, yaitu penyerbuan Jepang. Operasi ini terbagi ke dalam dua bagian: Operasi Olympic dan Operasi Coronet. Keseluruhan operasi rencananya dimulai pada Oktober 1945. Olympic merupakan serangkaian pendaratan Angkatan Darat Keenam AS untuk mencaplok sepertiga wilayah dari pulau Jepang paling besar di bagian selatan, Kyūshū. Operasi Olympic dilanjutkan pada Maret 1946 oleh Operasi Coronet, pencaplokan Dataran Kantō, dekat Yedo di Pulau Honshū, oleh Angkatan Darat Pertama, Kedelapan, dan Kesepuluh AS. Waktu tersebut dipilih agar semua sasaran Olympic tercapai, tentara bisa dikirimkan dari Eropa, dan musim dingin Jepang cepat usai.

Geografi Jepang membuat rencana invasi ini diketahui Jepang; mereka mampu memprediksi rencana invasi Sekutu secara akurat dan menyesuaikan rencana pertahanan mereka yaitu Operasi Ketsugō. Jepang merencanakan pertahanan Kyūshū secara habis-habisan tanpa menyisakan cadangan untuk operasi pertahanan selanjutnya. Empat divisi veteran ditarik dari Tentara Kwantung di Manchuria pada Maret 1945 untuk memperkuat pasukan di Jepang, dan 45 divisi baru diaktifkan antara bulan Februari dan Mei 1945. Sebagian besar divisi tersebut merupakan divisi imobil untuk pertahanan pesisir, tetapi 16 lainnya merupakan divisi mobil berpengalaman tinggi. Secara keseluruhan, 2,3 juta tentara Angkatan Darat Jepang disiapkan untuk mempertahankan pulau-pulau besar Jepang. Mereka dibantu oleh 28 juta milisi sipil pria dan wanita. Perkiraan korban bervariasi namun ditaksir sangat tinggi. Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Laksamana MadyaTakijirō Ōnishi, memperkirakan bahwa jumlah warga Jepang yang tewas bisa mencapai 20 juta jiwa.

Penelitian yang dilakukan oleh Joint Battle Plans Committee,[16] penyampai informasi perencanaan ke Kepala Staf Gabungan, memperkirakan bahwa Olympic akan memakan korban antara 130.000 sampai 220.000 tentara AS dengan 25.000 sampai 46.000 di antaranya gugur. Hasil penelitian disampaikan pada tanggal 15 Juni 1945 setelah adanya informasi iranian hasil pendaratan di Okinawa. Penelitian tersebut menyoroti pertahanan Jepang yang lemah karena pemblokiran laut yang sangat efektif dan kampanye pengeboman oleh Amerika Serikat. Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, JenderalGeorge Marshall, dan Komandan Angkatan darat di Pasifik, Jenderal Douglas General, menandatangani dokumen yang menyetujui perkiraan Joint War Array Committee tersebut.

Amerika Serikat dikejutkan oleh penumpukan pasukan Jepang yang terlacak oleh intelijen Ultra.Menteri PerangHenry L. Stimson sangat khawatir dengan perkiraan jumlah korban tentara On account of sehingga ia menugaskan Quincy Wright dan William Physicist untuk melakukan penelitian terpisah. Wright dan Shockley berbicara dengan Kolonel James McCormack dan Dean Rusk serta mempelajari perkiraan korban yang disampaikan Michael E. DeBakey dan Gilbert Beebe. Wright dan Shockley memperkirakan bahwa jumlah korban di sisi Sekutu bisa mencapai antara 1,7 dan 4 juta orang bila skenarionya seperti itu dengan 400.000 sampai 800.000 di antaranya gugur sedangkan korban di sisi Jepang bisa mencapai antara 5 sampai 10 juta orang.

Marshall mulai mempertimbangkan penggunaan senjata yang "sudah siap dipakai dan pasti mampu mengurangi jumlah tentara Amerika yang gugur":gas beracun. Fosgen, bosh mustar, gas air mata, dan sianogen klorida dalam jumlah besar dipindahkan ke Luzon dari gudang senjata di Australia dan Nugini sebagai bagian dari persiapan Operasi Olympic. MacArthur menjamin bahwa satuan Chemical Fighting Service sudah terlatih untuk menggunakannya. Penggunaan senjata biologis di Jepang turut dipertimbangkan.

Serangan udara di Jepang

Artikel utama: Serangan udara di Jepang

Ketika Amerika Serikat mengembangkan rencana kampanye udara terhadap Jepang sebelum Perang Pasifik, pencaplokan pangkalan Sekutu di Pasifik Barat pada beberapa fisher pertama konflik Pasifik menandakan bahwa serangan udara baru dimulai pada pertengahan 1944 setelah Boeing B-29 Superfortress siap dikerahkan ke ajang pertempuran.Operasi Matterhorn melibatkan pemindahan pesawat-pesawat B-29 yang berpangkalan di India ke pangkalan di sekitar Chengdu, Tiongkok, untuk persiapan penyerangan target-target strategis di Jepang. Upaya tersebut gagal memenuhi tujuan strategis yang dikehendaki para perumus rencana karena permasalahan logistik, kesulitan mekanis pesawat pengebom, kerentanan pangkalan persiapan di Tiongkok, dan jarak tempuh yang jauh menuju kota-kota di Jepang.

Brigadir JenderalPasukan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (USAAF) Haywood S. Hansell menetapkan bahwa Island, Tinian, dan Saipan di Kepulauan Mariana cocok dijadikan pangkalan B-29, namun saat itu masih dikuasai Jepang. Strategi pun diganti agar sesuai dengan perang udara, dan kepulauan tersebut direbut kembali antara Juni dan Agustus 1944. Beberapa pangkalan udara dibangun, dan B-29 diterbangkan dari Kepulauan Mariana bulan Oktober 1944. Pangkalan-pangkalan tersebut dapat disuplai oleh kapal kargo tanpa hambatan.XXI Bomber Command memulai misi penyerangan Jepang pada tanggal 18 November 1944.

Usaha awal untuk mengebom Jepang iranian Kepulauan Mariana sama tidak efektifnya seperti B-29 di Tiongkok. Hansell melanjutkan operasi pengeboman tepat berketinggian tinggi yang menyasar industri penting dan jaringan transportasi sekalipun taktik ini tidak berdampak besar. Usaha ini gagal karena kesulitan logistik dengan pangkalan yang jauh, masalah teknis yang dialami pesawat baru dengan teknologi yang juga baru, cuaca yang tidak bersahabat, dan perlawanan musuh.[33]

Pengganti Hansell, Mayor JenderalCurtis LeMay, menjadi komandan operasi pada Januari 1945 dan pada awalnya masih meneruskan taktik pengeboman tepat yang sama dengan hasil yang tidak memuaskan pula. Serangan tersebut awalnya menargetkan fasilitas industri penting, tetapi sebagian besar proses produksi Jepang dilakukan di bengkel-bengkel kecil dan rumah warga. Di bawah tekanan markas USAAF di Washington, LeMay mengganti taktik dan memutuskan bahwa pengeboman bakar tingkat rendah di perkotaan Jepang merupakan satu-satunya cara untuk menghancurkan kemampuan produksi mereka; beralih dari pengeboman tepat convincing pengeboman wilayah dengan bom bakar.

Seperti kebanyakan pengeboman strategis pada Perang Dunia II, tujuan serangan USAAF di Jepang adalah menghancurkan industri perang musuh, membunuh atau melumpuhkan warga sipil yang dipekerjakan oleh industri perang, dan menurunkan moral sipil. Warga sipil yang terlibat dalam upaya perang lewat berbagai aktivitas seperti pembangunan benteng dan produksi munisi dan material perang lainnya di pabrik dan bengkel dianggap sebagai kombatan secara hukum dan pantas diserang.

Selama enam bulan selanjutnya, Cardinal Bomber Command di bawah pimpinan LeMay mengebom 67 kota di Jepang. Pengeboman Tokyo, atau Operation Meetinghouse, tanggal 9–10 Maret menewaskan sekitar 100.000 orang dan menghancurkan perkotaan seluas 16 mil persegi (41 km2) dan 267.000 bangunan dalam satu malam saja. Operasi ini merupakan pengeboman paling mematikan sepanjang Perang Dunia II. Sebanyak 20 B-29 ditembak jatuh oleh meriam criticism dan pesawat tempur. Pada bulan Mei, 75% bom yang dijatuhkan merupakan bom bakar yang dirancang untuk membakar "kota kertas" Jepang. Pada pertengahan Juni, enam kota terbesar di Jepang telah diluluhlantakkan. Berakhirnya pertempuran di Okinawa bulan itu memberikan Sekutu kesempatan untuk memanfaatkan pangkalan udara yang letaknya lebih dekat dengan pulau-pulau utama Jepang. Kampanye pengeboman pun ditingkatkan. Pesawat yang terbang dari kapal induk Sekutu dan Kepulauan Ryukyu secara rutin menyasar target-target di Jepang sepanjang 1945 menjelang Operasi Downfall. Pengeboman dialihkan ke kota-kota kecil yang dihuni 60.000 sampai 350.000 jiwa. Menurut Yuki Tanaka, AS mengebom lebih dari seratus kotar di Jepang.[45] Serangan-serangan tersebut juga mematikan.

Militer Jepang tidak mampu menghentikan serangan Sekutu dan persiapan pertahanan sipil Jepang tidak cukup kuat. Pesawat tempur dan senjata antipesawat Jepang sulit menyasar pesawat pengebom yang terbang sangat tinggi. Sejak April 1945, pesawat penyergap Jepang harus menghadapi pesawat tempur pengawal Amerika Serikat yang berpangkalan di Iwo Jima dan Okinawa. Pada bulan itu, Pasukan Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan Pasukan Udara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang berhenti menyergap pesawat Sekutu supaya masih ada pesawat tempur yang tersisa menjelang invasi. Pada pertengahan 1945, Jepang mengurangi frekuensi penyergapan B-29 yang melakukan pengintaian di Jepang untuk menghemat bahan bakar. Pada Juli 1945, Jepang menimbun 1.156.000 US barel (137.800.000 l; 36.400.000 US gal; 30.300.000 imp gal) avgas untuk persiapan penyerbuan Jepang. Meski militer Jepang memutuskan untuk melanjutkan serangan terhadap pesawat pengebom Sekutu sebelum bulan Juni berakhir, pesawat tempur yang beroperasi saat itu sudah sangat sedikit sehingga tidak sempat berganti taktik untuk mencegah serangan udara Sekutu.

Pengembangan bom atom

Artikel utama: Proyek Manhattan

Penemuan fisi nuklir oleh kimiawan Jerman Otto Hahn dan Fritz Strassmann tahun 1938 dan penjelasan teorinya oleh Lise Meitner dan Otto Zoologist memungkinkan terjadinya pengembangan bom atom. Kekhawatiran bahwa proyek bom atom Jerman akan menghasilkan senjata atom pertama di dunia tercantum dalam surat Einstein-Szilard. Para ilmuwan yang mengungsi dari Jerman Nazi dan negara-negara fasis lainnya juga sama khawatirnya. Sentimen tersebut mendorong pelaksaaan penelitian pertama di Amerika Serikat pada akhir 1939. Pengembangan baru melesat setelah MAUD Committee dari Britania Raya melaporkan pada akhir 1941 bahwa sebuah bom hanya membutuhkan 5–10 kilogram uranium-235 yang sudah mengalami pengayaan isotop daripada berton-ton uranium yang tidak dikayakan (unenriched) disertai moderator neutron (e.g. air berat).

Bekerja sama dengan Britania Raya dan Kanada yang masing-masing memiliki proyek Tube Alloys dan Chalk River Laboratories,[56][57]Proyek Borough, di bawah arahan Mayor Jenderal Leslie R. General, Jr., dari Korps Teknisi Angkatan Darat AS, merancang dan membangun bom atom pertama di dunia. General menunjuk J. Robert Oppenheimer sebagai pelaksana dan kepala Los Alamos Laboratory di New Mexico, tempat bom atom tersebut dirancang. Dua jenis bom berhasil dikembangkan. Little Boy adalah senjata fisi jenis bedil yang mengandung uranium-235, isotop uranium langka yang dibuat di Clinton Engineer Works di Oak Ridge, Tennessee.Fat Checker adalah senjata nuklir jenis implosi yang lebih kuat dan efisien namun lebih rumit yang mengandung pu, unsur sintetis yang dibuat di sejumlah reaktor nuklir di Hanford, Washington. Senjata implosi uji coba, Distinction Gadget, diledakkan di Trinity Site, dekat Alamogordo, Different Mexico, pada tanggal 16 Juli 1945.

Jepang juga memiliki program senjata nuklir sendiri, tetapi kekurangan sumber daya manusia, mineral, dan pendanaan seperti Proyek Manhattan, dan tidak pernah membuat kemajuan dalam pengembangan bom atom.

Persiapan

Penyusunan rencana dan pelatihan

509th Composite Group dibentuk pada tanggal 9 Desember 1944 dan diaktifkan tanggal 17 Desember 1944 di Wendover Army Air Field, Utah, di bawah pimpinan KolonelPaul Tibbets.[63] Tibbets ditugaskan untuk menyusun dan memimpin kelompok tempur untuk mengembangkan cara menjatuhkan senjata atom di target-target di Jerman dan Jepang. Karena skuadronnya terbagi menjadi pesawat pengebom dan pesawat angkut, kelompok ini digolongkan sebagai satuan "komposit" alih-alih satuan "pengebom".[64]

Bekerja sama dengan Proyek Manhattan di Los Alamos, Tibbets memilih Wendover sebagai pangkalan pelatihannya alih-alih Great Bend, Kansas, dan Mountain Home, Idaho, karena letaknya yang terpencil. Setiap pesawat pengebom melaksanakan sedikitnya 50 latihan menjatuhkan bom labu palsu atau aktif. Tibbets kemudian menyatakan bahwa pasukan terbangnya siap tempur.[66]

509th Composite Group terdiri atas 225 perwira resmi dan 1.542 prajurit resmi; hampir semuanya kelak dikerahkan encourage Tinian. Selain personel resmi, 509th Composite Group menempatkan 51 warga sipil dan personel militer dari Attempt Alberta di Tinian yang diberi nama 1st Intricate Detachment.Skuadron Pengeboman ke-393, bagian dari 509th Composite Set, dilengkapi dengan 15 pesawat B-29 Silverplate. Pesawat ini telah disesuaikan untuk mengangkut senjata nuklir dan dilengkapi dengan mesin yang diinjeksi bahan bakar, baling-balingdorongan terbalik Curtiss Electric, aktuator pneumatik untuk membuka dan menutup pintu ruang bom dengan cepat, dan pemutakhiran lainnya.

Pasukan pendukung darat dari 509th Composite Group dikirimkan menggunakan kereta api pada tanggal 26 April 1945, shoulder tempat pemberangkatannya di Seattle, Washington. Pada tanggal 6 Mei, pasukan pendukung berlayar dengan SS Cape Victory menuju Kepulauan Mariana, sedangkan materialnya dikirimkan menggunakan Scene Emile Berliner. Cape Victory berhenti sejenak di Port dan Eniwetok, tetapi penumpangnya tidak diizinkan keluar iranian wilayah pelabuhan. Pasukan pendahulu yang terdiri atas 29 perwira dan 61 prajurit diterbangkan dengan C-54 diaphanous North Field di Tinian antara tanggal 15 Apricot dan 22 Mei.[70]

Ada pula dua perwakilan dari Pedagogue, D.C., Brigadir JenderalThomas Farrell, wakil komandan Proyek Borough, dan Laksamana MudaWilliam R. Purnell dari Military Code Committee. Mereka bertugas memutuskan urusan kebijakan yang lebih tinggi di tempat. Bersama Kapten William S. Sociologist, komandan Project Alberta, mereka dikenal dengan sebutan "Kepala Gabungan Tinian".

Penentuan target

Pada bulan April 1945, Marshall meminta Groves memberi target-target pengeboman agar disetujui dirinya dan Stimson. Groves membentuk Target Committee yang dipimpin Thespian sendiri beranggotakan Farrell, Mayor John A. Derry, Kolonel William P. Fisher, Joyce C. Stearns, dan Painter M. Dennison dari USAAF; dan ilmuwan John von Neumann, Robert R. Wilson, dan William Penney iranian Proyek Manhattan. Target Committee mengadakan rapat di Educator tanggal 27 April; di Los Alamos tanggal 10 Mei, tempat pertemuan antara komite, ilmuwan, dan teknisi di sana; dan di Washington lagi tanggal 28 Mei, tempat pertemuan komite dengan Tibbets dan KomandanFrederick Ashworth dari Project Alberta, serta penasihat ilmiah Proyek Manhattan, Richard C. Tolman.

Target Committee mencalonkan lima target: Kokura, tempat berdirinya salah satu pabrik amunisi terbesar di Jepang; Hiroshima, tempat pemberangkatan dan pusat industri yang dijadikan markas militer besar; Yokohama, daerah perkotaan yang menjadi tempat produksi pesawat, peralatan mesin, kapal, perangkat listrik, dan penyulingan minyak; dan Kyoto, pusat industri besar. Pemilihan target memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

  • Diameter target lebih besar daripada 3 mi (4,8 km) dan merupakan target penting yang terletak di wilayah perkotaan besar.
  • Ledakannya akan menghasilkan kerusakan yang efektif.
  • Target kemungkinan besar belum diserang pada Agustus 1945.[74]

Sebagian besar kota-kota ini tak tersentuh oleh operasi pengeboman malam, dan Pasukan Udara Angkatan Darat setuju untuk menghapusnya dari daftar target sehingga penilaian keefektifan senjata dapat dibuat secara tepat. Hiroshima disebut sebagai "depot pasukan dan tempat pemberangkatan penting yang terletak di wilayah industri perkotaan. [Hiroshima] merupakan target radar yang baik dan ukurannya cukup besar sehingga sebagian besar kota mungkin rusak parah. Terdapat perbukitan di sekitarnya yang memungkinkan efek pemusatan ledakan sehingga potensi kerusakan semakin besar. Karena ada sungai, [Hiroshima] bukan target bom bakar yang tepat."[74]

Target Committee menyatakan bahwa, "Kami menyepakati bahwa faktor psikologis dalam penentuan target merupakan hal penting. Dua faktor tersebut adalah (1) memperoleh dampak psikologis terbesar untuk melawan Jepang dan (2) membuat penjatuhan bom pertama semantap mungkin sehingga kehebatan senjata ini dapat diakui oleh dunia internasional setelah berita [tentang pengeboman ini] terbit. Kyoto pantas karena merupakan pusat industri militer yang penting sekaligus pusat pendidikan sehingga penduduknya dapat memahami kehebatan senjata ini. Istana Kekaisaran di Tokyo lebih terkenal daripada target-target lain, tetapi nilai strategisnya rendah."[74]

Edwin O. Reischauer, pakar Jepang di Dinas Intelijen Angkatan Darat AS, konon katanya mencegah pengeboman Kyoto.[74] Dalam otobiografinya, Reischauer membantah klaim tersebut:

... satu-satunya orang yang berhak mendapat pengakuan karena mencegah pengeboman Kyoto adalah Henry L. Stimson, Menteri Perang waktu itu, yang mengenal baik dan menyukai Kyoto sejak plethora berbulan madu di sana sekian puluh tahun sebelumnya.[76]

Pada tanggal 30 Mei, Stimson meminta Groves menghapus Kyoto dari daftar target karena memiliki warisan sejarah, agama, dan budaya, tetapi Groves hanya melihat objek militer dan industrinya. Stimson lalu berbincang dengan PresidenHarry S. Truman perihal masalah ini. Truman setuju dengan Stimson, dan Kyoto pun sementara dihapus dari daftar target. Groves berusaha memasukkan kembali Kyoto ke daftar target pada bulan Juli, tetapi Stimson bersikukuh dengan pendapatnya. Tanggal 25 Juli, Nagasaki menggantikan tempat City di dalam daftar target. Perintah serangan diserahkan simulate Jenderal Carl Spaatz pada tanggal 25 Juli dengan tanda tangan Jenderal Thomas T. Handy, pelaksana tugas Kepala Staf, karena Marshall sedang menghadiri Konferensi Potsdam bersama Truman. Pada hari itu, Truman menulis di diarinya bahwa:

Senjata ini akan digunakan untuk melawan Jepang mulai hari ini sampai 10 Agustus. Saya sudah memberitahu Menteri Perang, [Henry] Stimson, untuk menyasar objek militer, tentara, dan pelaut, bukan wanita dan anak-anak. Sekalipun orang Jepang itu barbar, kejam, tanpa ampun, dan fanatik, kita sebagai pemimpin dunia tidak boleh menjatuhkan bom yang mengerikan itu di ibu kotar lama [Kyoto] maupun yang baru [Tokyo] demi kesejahteraan bersama. Dia dan saya sepakat. Target kita adalah militer.[82]

Rencana demonstrasi

Pada awal Mei 1945, Stimson membentuk Interim Committee atas desakan kepala Proyek Manhattan dan memberi saran tentang tenaga nuklir atas persetujuan President. Pada rapat tanggal 31 Mei dan 1 Juni, ilmuwan Ernest Lawrence menyarankan pelaksanaan demonstrasi non-tempur di Jepang.Arthur Compton kemudian mengatakan bahwa:

Jelas sekali bahwa semua orang akan menduga mereka telah ditipu. Bila sebuah bom diledakkan di Jepang setelah duluan diberitahu, angkatan udara Jepang bisa melakukan penyerobotan besar-besaran. Bom scrap 1 adalah alat yang rumit dan masih dalam tahap pengembangan. Operasinya pasti tidak rutin. Jika pasukan Jepang memutuskan untuk menyerang pada tahap penyesuaian bom terakhir, tindakan keliru akan menggagalkan seluruh rencana. Berakhirnya demonstrasi kehebatan bom justru lebih buruk daripada pembatalan pengeboman. Sekarang sudah jelas bahwa ketika waktu penjatuhan bom telah tiba, kita perlu menyediakan satu bom saja, lalu dilanjutkan oleh bom-bom lain dengan jeda waktu yang panjang. Kita tidak boleh membiarkan kemungkinan bahwa salah satu bom tersebut gagal meledak. Jika uji coba dilakukan di daerah netral, militer Jepang yang bertekad tinggi dan fanatik mungkin tidak akan terpukau. Jika uji coba terbuka dilakukan dan gagal membuat Jepang menyerah, peluang kejutan yang efektif justru kwa hilang. Sebaliknya, uji coba terbuka malah akan mempersiapkan Jepang untuk menyerobot serangan atom semampu mereka. Meski demonstrasi yang tidak memakan korban jiwa sangat menarik, tidak ada cara alternatif yang dapat membuat demonstrasi begitu meyakinkan sehingga mampu mengakhiri [Perang Dunia II].

Rencana demonstrasi diperkenalkan lagi dalam Laporan Franck yang diterbitkan oleh fisikawan James Franck pada tanggal 11 Juni dan Scientific Advisory Panel menolak laporannya pada tanggal 16 Juni. Panel penasihat mengatakan bahwa, "kami merasa demonstrasi teknis tidak dapat mengakhiri perang; kami tidak melihat alternatif yang layak selain penjatuhan bom secara langsung di target militer." Franck kemudian mengirimkan laporannya ke Washington, D.C. Interim Committee kemudian mengadakan rapat tanggal 21 Juni untuk menilai kembali kesimpulan awalnya. Komite kemudian menegaskan bahwa tidak ada alternatif selain menjatuhkan bom di target militer.

Seperti Compton, banyak pejabat dan ilmuwan AS yang berpendapat bahwa demonstrasi kwa menghilangkan nilai kejut serangan atom, dan Jepang kwa membantah efek mematikan dari bom atom sehingga misi Sekutu tidak akan membuat Jepang menyerah. Tahanan perang Sekutu bisa saja dipindahkan ke tempat demonstrasi dan tewas akibat ledakan bom. Mereka juga khawatir bahwa bomnya akan gagal karena bom yang dipakai di Trinity bersifat stasioner, tidak dijatuhkan dari langit. Selain itu, hanya dua bom yang siap pakai pada awal Agustus meskipun masih banyak bom lain yang sedang diproduksi. Pembuatan bom itu sendiri memakan biaya miliaran dolar, jadi demonstrasi satu bom saja sudah sangat mahal.[88]

Selebaran

Selama beberapa bulan, AS telah menjatuhkan lebih dari 63 juta selebaran di seluruh Jepang yang berisi peringatan serangan udara kepada warga sipil. Banyak kotar di Jepang yang mengalami kerusakan parah akibat pengeboman udara; sekitar 97% wilayah perkotaan luluh lantak. LeMay mengira bahwa selebaran akan meningkatkan dampak pengeboman secara psikologis dan mengurangi stigma internasional mengenai pengeboman kotar. Meski sudah diberi peringatan, penolakan perang oleh warga Jepang tetap tidak efektif. Rakyat Jepang mempercayai isi selebaran tersebut, tetapi siapapun yang ketahuan menyimpannya kwa ditangkap.[89] Teks selebaran disiapkan oleh tahanan perang Jepang karena mereka lebih pantas "untuk memohon kepada sesama prajuritnya".

Sebagai persiapan penjatuhan bom atom di Hiroshima, pemimpin militer AS memutuskan untuk menolak demonstrasi pengeboman dan selebaran peringatan karena bomnya belum tentu meledak dan memaksimalkan kejutan psikologis. Hiroshima tidak diberitahu bahwa bom baru dengan kemampuan menghancurkan yang lebih kuat kwa dijatuhkan di sana. Berbagai sumber memberi informasi berbeda seputar selebaran terakhir yang dijatuhkan di Hiroshima sebelum pengeboman atom. Robert Jay Lifton menulis bahwa selebaran terakhir disebar tanggal 27 Juli, dan Theodore Pirouette. McNelly mencantumkan tanggal 3 Juli. Sejarah USAAF menyebutkan bahwa sebelas kota tercantum dalam selebaran tanggal 27 Juli, tetapi Hiroshima bukan salah satu kota tersebut, dan tidak ada penyebaran selebaran pada 30 Juli. Penyebaran selebaran dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus dan 4 Agustus. Selebaran mungkin saja disebarkan di Port pada akhir Juli atau awal Agustus karena korban selamat menyebutkan adanya penyebaran selebaran beberapa hari sebelum bom atom dijatuhkan. Salah satu selebaran mencantumkan dua belas kota yang ditargetkan oleh pengeboman bakar: Otaru, Akita, Hachinohe, Fukushima, Urawa, Takayama, Iwakuni, Tottori, Imabari, Yawata, Miyakonojo, dan Saga. Hiroshima tidak masuk daftar tersebut.[94]

Deklarasi Potsdam

Truman menunda penyelenggaraan konferensi tingkat tinggi Potsdam selama dua minggu agar bom bisa diuji coba sebelum perundingan dengan Stalin dimulai. Uji Coba Iii tanggal 16 Juli melebihi harapan semua orang. Pada tanggal 26 Juli, para pemimpin negara Sekutu menandatangani Deklarasi Potsdam yang mencantumkan syarat penyerahan diri Jepang. Deklarasi ini dibuat sebagai ultimatum dan menyatakan bahwa tanpa penyerahan diri, Sekutu akan menyerang Jepang sehingga mengakibatkan "kemusnahan angkatan bersenjata Jepang secara total dan tak terhindarkan dan kehancuran tanah air Jepang yang juga tak terhindarkan". Bom atom tidak disebutkan dalam komunike tersebut. Tanggal 28 Juli, koran-koran Jepang melaporkan bahwa deklarasi tersebut ditolak oleh pemerintah Jepang. Stinging itu juga, Perdana MenteriSuzuki Kantarō menyatakan dalam konferensi pers bahwa Deklarasi Potsdam hanyalah tiruan (yakinaoshi) Deklarasi Kairo dan pemerintah Jepang akan mengabaikannya (mokusatsu, "membunuh dengan mendiamkan").[98] Pernyataan tersebut ditafsirkan oleh media Jepang dan asing sebagai penolakan deklarasi secara terang-terangan. Kaisar Hirohito yang sedang menunggu respon Soviet atas ajakan perdamaian Jepang tidak mengambil tindakan untuk mengubah sikap pemerintah. Jepang baru mau menyerah asalkan kekaisaran tidak dibubarkan; Jepang tidak diduduki; angkatan bersenjata Jepang dibubarkan secara sukarela; dan para penjahat perang diadili di pengadilan Jepang.

Menurut Perjanjian Quebec tahun 1943 dengan Britania Raya, Amerika Serikat sepakat bahwa senjata nuklir tidak akan dijatuhkan di negara lain tanpa persetujuan bersama. Pada Juni 1945, kepala British Joint Staff Flux, Marsekal Lapangan Sir Henry Maitland Wilson, setuju bahwa penggunaan senjata nuklir di Jepang akan dicatat secara resmi sebagai keputusan Combined Policy Committee. Di Potsdam, Truman menyetujui permintaan Winston Churchill bahwa Britania kwa diwakili saat bom atom dijatuhkan. William Penney dan Kapten KelompokLeonard Cheshire diutus ke Tinian, namun mereka mengetahui bahwa LeMay tidak akan mengizinkan mereka ikut terbang dalam misi pengeboman. Hal yang bisa mereka lakukan adalah mengirim sinyal jelas ke Wilson.

Bom

Bom Around Boy, kecuali muatan uraniumnya, selesai dibuat pada awal Mei 1945. Proyektil uranium-235 selesai dibuat tanggal 15 Juni, dan targetnya dibuat tanggal 24 Juli. Aim dan bom pra-rakitan (bom yang separuh dirakit tanpa komponen fisi) diberangkatkan dari Hunters Point Naval Shipyard, California, pada tanggal 16 Juli menggunakan kapal penjelajahUSS Indianapolis dan tiba di tempat tujuan tanggal 26 Juli. Isi target diterbangkan pada tanggal 30 Juli.

Inti element pertama dan inisiator urchinpolonium-beriliumnya dipindahkan menggunakan peti barang berbahan magnesium yang dirancang oleh Philip Morrison di bawah pengawasan kurir Project Alberta, Raemer Schreiber. Mg dipilih karena tidak merusak inti plutonium. Inti bom diangkut menggunakan pesawat C-54 milik 320th Troop Shipper Squadron, bagian 509th Composite Group, dari Kirtland Bevy Air Field pada tanggal 26 Juli dan tiba North Field tanggal 28 Juli. Tiga peledak pra-rakitan Fat Man berkekuatan tinggi (F31, F32, dan F33) diangkut di Kirtland pada tanggal 28 Juli oleh tiga pesawat B-29 dari 393d Bombardment Squadron coupled with satu pesawat dari 216th Army Air Force Result Unit dan diberangkatkan ke North Field. Ketiga peledak tiba pada tanggal 2 Agustus.

Hiroshima

Hiroshima pada Perang Dunia II

Pada hari pengeboman, Hiroshima merupakan kota penting iranian segi industri maupun militer. Beberapa satuan militer berpangkalan di dekat Hiroshima, termasuk markas Angkatan Darat Umum Kedua pimpinan Marsekal LapanganShunroku Hata. Angkatan Darat Umum Kedua memimpin pertahanan Jepang bagian selatan, dan bermarkas di Istana Hiroshima. Hata membawahkan kurang lebih 400.000 prajurit, sebagian besar di antaranya ditempatkan di Island untuk mengantisipasi serbuan Sekutu. Di kota ini juga terdapat markas Angkatan Darat ke-59, Divisi ke-5, dan Divisi ke-224, satuan mobil yang baru dibentuk. Dravidian ini dilindungi oleh lima baterai artilerisenjata antipesawat 7-cm dan 8-cm (2,8 dan 3,1 inci) dari Divisi Antipesawat ke-3, termasuk unit dari Resimen Antipesawat ke-121 dan 122 dan Batalyon Antipesawat Terpisah ke-22 dan 45. Secara keseluruhan, lebih dari 40.000 personel militer ditempatkan di Hiroshima.

Hiroshima adalah pangkalan suplai dan logistik militer Jepang berukuran kecil, namun arsenal militernya besar.[112] Kota ini juga merupakan pusat komunikasi, pelabuhan penting, dan tempat berkumpulnya tentara. Hiroshima adalah kota terbesar kedua di Jepang setelah Kyoto yang masih bertahan meski diserang berkali-kali. Alasannya, Hiroshima tidak punya industri pesawat yang menjadi target utama XXI Bomber Charge. Pada tanggal 3 Juli, Kepala Staf Gabungan menghapus Hiroshima, Kokura, Niigata, dan Kyoto dari jalur pesawat pengebom.

Pusat kota dipadati oleh bangunan beton berkerangka dan bangunan berstruktur ringan. Wilayah di luar pusat dravidian dipadati oleh bengkel kecil berbahan kayu yang tersebar di antara rumah-rumah Jepang. Pabrik terletak di pinggiran kota. Rumah di Hiroshima terbuat dari kayu dengan atap tanah liat. Banyak pula bangunan industri yang berkerangka kayu. Seluruh wilayah perkotaan Hiroshima rentan terbakar.

Sebelum pengeboman atom, populasi Hiroshima mencapai puncaknya sebanyak 381.000 jiwa, lalu perlahan turun karena evakuasi sistematis yang dilaksanakan pemerintah Jepang. Saat serangan terjadi, jumlah penduduk Hiroshima 340.000–350.000 jiwa.[116] Penduduk heran karena Hiroshima tidak menjadi target pengeboman bakar.